Sunday, May 13, 2012

Prosa Pagi Ini

Katakanlah? Ketika engkau memejamkan mata, apa yang terlihat? Ketika musik mengalun, apa yang terdengar? Satukanlah imajinasi itu, maka kelak akan tercipta adegan demi adegan. Semuanya saling bersinergi. Imajinasi utuh pun tercipta.

Namun, apa yang terjadi jika seluruh imajinasi itu tertutup oleh bayangan kerinduan? Sebuah kabut tebal yang biasa menyelimuti pegunungan. Imajiku bagaikan pelangi yang terhalang oleh rapatnya selasar awan gemawan. Tak tampak, tak terasa pula.

Bayangan itu adalah kamu. Mengendap jauh di lubuk pemikiranku. Mengacak-acak emosiku. Dari kerinduan hingga cinta yang mendalam. Buah karya ciptaan Sang Semesta, yang menghipnotis mata seraya menjatuhkan harga diri sebuah jiwa.

Hanya lewat tulisan ini aku berkata. Persetan dengan segala ekspresi kasat mata yang selalu menaungi wajah ini. Tawa lepas, canda raya. Semuanya semu ketika kau melihat apa yang tampak dibaliknya. Sebuah ekspresi kerinduan, tak kasat mata.

Rapuh mungkin. Namun, inilah ekspresiku. Ketika imajinasi tak kuasa untuk menggambarkan masa depanku. Saat seluruh dunia dengan segala masalahnya tak kugubris. Karena, duniaku adalah kamu, yang senantiasa mengajak jiwa ini mengarungi semesta.


Monday, May 7, 2012

Dead Poets Society II

"No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world." _John Keating_

Dead Poets Society

"We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion. And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for." _John Keating_

Thursday, May 3, 2012

Fantasi Ganjil

Tanah terapung
Pulau nan jauh
Gapai sang sukma
Gegap gempita

Imaji nan tertatih
Nun peluk mesra
Jiwa mengelak
Kerinduan dunia

Lengkung awan
Biru langit
Cakrawala senja
Bertabur swara

Lelap terjaga
Titian bermuara
Sungai memadu
Resah dalam rindu


Wednesday, May 2, 2012

Bayang

Dihantui bayangmu?
Ku berpikir bukan itu
Itu hanyalah  perpektif
Pandangku atas dirimu

Kendati menghitam
Namun cukup nyata
Tersirat noda kelam
Ruang yang terlunta

Berbuai kerinduan
Berlumur cinta
Berharap santunan
Hati nan luka