Monday, January 28, 2019

Ahmad Band, Magnum Opus Perlawanan Ahmad Dhani

"Yang muda mabuk, yang tua korup. Yang muda mabuk, yang tua korup. Korup terus, mabuk terus. Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini. Merdeka!"

Nukilan lirik lagu Distorsi dari Ahmad Band itu terus terngiang di benak saya setelah jatuh vonis untuk sang pentolan, Ahmad Dhani.

Ya, seperti diketahui, musikus Ahmad Dhani dihukum 1,5 tahun bui karena cuitan ujaran kebencian terkait SARA di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (28/1/2019).

Perlawanan Dhani merupakan sebuah keniscayaan. Ya, bukan kali ini saja, Ahmad Dhani berkoar-koar teriak kepada penguasa. Ini membuat saya kembali bernostalgia ke medio 1998.

Di masa itu, ketika darah reformasi bergejolak di penjuru negeri, pentolan Dewa 19 tersebut melawan dengan cara lain. Dia berteriak lantang melalui panji Ahmad Band.

Ahmad Band merupakan alter ego alias proyek sampingan dari Ahmad Dhani di luar Dewa 19. Siapa nyana, justru Ahmad Band yang hanya memiliki satu album: Ideologi Sikap Otak digadang-gadang merupakan puncak kejeniusan dari seorang Ahmad Dhani.

Dengan lantang, Ahmad Dhani maju sebagai vokalis. Suaranya memang tidak setrengginas Ari Lasso di Dewa 19, tapi cukup lantang ketika meneriakkan lirik-lirik berbau protes ke penguasa.

Kala itu, Ahmad Band merupakan salah satu super grup di era 1990-an. Betapa tidak, para personelnya merupakan comotan dari grup-grup yang tengah naik daun di era itu.

Ahmad Dhani (vokalis, kibordis) dan Andra Ramadhan (gitaris), seperti kita ketahui, merupakan dua pentolan dari band Dewa 19. Ada pula Bimo (drummer) yang merupakan penggebuk drum dari grup Netral (yang kala itu beraliran grunge-punk).

Lalu ada juga Pay (gitaris) dan Bongky (bassis). Dua nama ini merupakan personel yang dikeluarkan dari Slank dan memiliki musikalitas gemilang.

Perlawanan Dhani

Ahmad Band dan Dewa 19 bagaikan dua sisi mata uang. Alirannya berbeda, lebih kental unsur rock grunge. Sementara Dewa 19 lebih beraliran pop-rock.

Dari lirik-liriknya, Ahmad Dhani seolah meletupkan protesnya terhadap pemerintah. Bisa dibilang, Ahmad Band merupakan medium bagi Ahmad Dhani untuk meluapkan idelismenya yang selama ini terbelenggu di Dewa 19.

Lagu-lagu di album Ahmad Band didominasi oleh suara gitar elektrik dengan distorsi dan bass. Beda dengan di Dewa 19 yang masih terdengar suara keyboard yang cukup kental.

Salah satunya jeritan perlawanan Ahmad Dhani termaktub dalam lirik lagu Distorsi, nomor pertama di album Ideologi Sikap Otak.

Dengan bahasa yang vulgar dan menohok, Ahmad Dhani mengkritisi penguasa saat itu yang ingkar janji. Janjinya sih memberantas kemiskinan, tapi ternyata menguras uang rakyat.

"Maunya selalu memberantas kemiskinan. Tapi ada yang selalu kuras uang Rakyat. Ada yang sok aksi buka mulut protas protes. Tapi sayang mulutnya selalu beraroma alkohol."

Ahmad Dhani juga menyindir secara sarkastis terhadap penguasa yang korupsi. Ditohok pula orang yang mencoba sadarkan penguasa, tapi setali tiga uang dengan yang disadarkan.

"Maunya selalu menegakkan keadilan tapi masih saja ada sisa hukum rimba. Ada yang coba-coba sadarkan penguasa, tapi sayang yang coba sadarkan, sadar aja nggak pernah."

Dia terus menyindir dengan meneriakkan: 'Jayalah negeri ini, jayalah negeri ini. Merdeka!' Lantangnya Dhani ketika menyanyikan lagu ini.

Salah satu lagu yang menurut saya sangat lantang dan vulgar merupakan track pamungkas di album ini: Ode buat Extrimist.

Dengan distorsi gitar dan pukulan drum yang garang, lagu ini dikomposisi sangat apik oleh Ahmad Dhani. Apalagi ditambah dengan partisipasi Bagus Netral yang menyumbangkan vokal garangnya.

Dalam lagu ini, tampak Ahmad Dhani ingin menyindir demonstran-demonstran yang menggelar aksi massa namun tak mengerti yang diteriakkan. Singkat kata demonstran bayaran.

Dengan vulgar, Ahmad Dhani menyebut mereka sebagai 'Arak-arakan, pawai idiot dengan baju warna-warna'. Dhani mengingatkan bahwa mereka bukan boneka yang ditipu boneka.

"Itu namanya kriminalitas. Bukan politik bukan taktik. Akhirnya jadi bahan lelucon yang tak lucu dan tak cerdik."

Nukilan lirik ini dinyanyikan secara repetitif di lagu tersebut. Seolah meramalkan nasib Ahmad Dhani yang kini terjun ke dunia politik.

Pun lagu protes yang cukup menohok di album Ideologi Sikap Otak merupakan track 'Impotent'.

Dengan mengutip sedikit sample drum dari 'Song 2' milik Blur, lagu ini bertempo cepat. Sama seperti lagu lain, distorsi gitar masih mendominasi.

Di Lagu ini, Ahmad Dhani tidak seperti menyanyi, melainkan berorasi. Ya, banyak orasi yang dilantangkan Ahmad Dhani di album ini.

Ahmad Dhani di lagu ini meneriakkan belenggu yang dipasangkan oleh penguasa. Alhasil, publik pun hidup dengan rasa takut.

"Apa arti damai, bila takut terkubur. Apa arti damai, bila semuanya membisu"

Lewat lagu ini, Ahmad Dhani mengimbau publik untuk membebaskan imajinasi serta melepaskan ketakutan yang membelenggu.

"Bebaskan imajinasimu, cermatilah suasananya, resap isinya penetrasi, singkirkan semua kebodohan."

Bukan tanpa lagu cinta

Cinta, cinta dan cinta. Lagu cinta memang merupakan santapan dari Ahmad Dhani. Lirik-lirik yang lugas dan bisa meluluhkan hati wanita, Dhani memang piawainya.

Lagu cinta di album ini bagaikan oase di padang tandus. Bagaikan pemanis di tengah kegarangan-kegarangan track demi track di Ideologi Sikap Otak.

Uniknya, lagu-lagu cinta di album ini diakui sebagai masterpiece Ahmad Dhani di luar Dewa 19. Sebut saja, Aku Cinta Kau dan Dia dan Sudah.

Aku Cinta Kau dan Dia berulang kali diaransemen oleh Ahmad Dhani, dan diakui sebagai salah satu lagu cinta terbaik yang pernah diciptakan Ahmad Dhani.

Liriknya menohok untuk orang yang mencintai dua perempuan atau laki-laki sekaligus. Hmmm... ini seperti meramalkan nasib Ahmad Dhani yang mencintai mantan istrinya, Maia Estianty dan juga istrinya kini, Mulan Jameela.

"Hancur hatiku mengenang dikau, menjadi keping keping setelah kau pergi, tinggalkan kasih sayang yang pernah singgah antara kita."

"Sekali lagi maafkanlah, karena aku cinta kau dan dia. Maafkanlah ku tak bisa, tinggalkan dirinya."

Ada pula lagu Sudah yang bikin baper. Betapa tidak, dalam lagu itu, ada gambaran sosok pasangan kekasih yang masih saling memuji meski cintanya sudah kandas.

Lagu ini kian bikin baper karena ada suara mantan istri Ahmad Dhani, Maia Estianty. Tentunya, lagu ini menjadi kenangan manis untuk Dhani dan Maia pula.

Lagu ini seolah menjadi ramalan kandasnya kisah cinta Maia Estianty dan Ahmad Dhani. Simak saja lirik-liriknya:

"Tak satupun yang ku sesali, malahan semua hiasi hidup. Mungkin setitik perih yang ada, mendewasakan aku dan kamu."

Namun umur Ahmad Band hanya seumur jagung. Band 'gila' itu bubar di tahun 2000. Di tahun itu pula, Dewa 19 kembali dari hiatus dengan menanggalkan angka 19 di belakang namanya.

Desain album

Dari sisi desain cover album pun, album Ahmad Band, Ideologi Sikap Otak, pun tak kalah garang. Di cover depan, Ahmad Dhani berpose dan berpakaian seperti Presiden Pertama RI Soekarno, sosok yang memang diidolakannya.

Dia mengenakan peci berwarna hitam lengkap dengan kemeja safari. Di bagian dada kanan, terlihat name tag bertuliskan namanya, Ahmad Dhani.

Di bagian dalam cover album, terlihat aksi Ahmad Dhani ketika tengah orasi di depan publik. Ada pula Ahmad Dhani yang masih memakai pakaian ala Soekarno berpose dengan anggota-anggota bandnya.

Sunday, August 26, 2018

Ahmad Dhani yang Musisi atau Ahmad Dhani yang Politisi?

'Kangen', 'Kamulah Satu-satunya', 'Restoe Boemi' hingga 'Cukup Siti Nurbaya'. Deretan lagu milik band Dewa 19 itu tentunya karib di telinga publik generasi 90-an.

Di dekade tersebut, Dewa 19 memang mengalami kejayaan. Lagu-lagunya seolah menyuarakan jeritan hati anak muda di masa itu. Ada cinta, ada katarsis di dalamnya.

Lagu 'Kangen', misalnya. Siapa yang tidak terlena mendengar petikan gitar di awal lagu itu. Lirik cintanya memang menye-menye. Tapi, nuansa rock membuat lagu itu mengisi adrenalin di relung hati para pejantan.

Dengar saja reff lagunya yang menunjukkan ketidakberdayaan seorang laki-laki kala mencintai seorang wanita. Pria di lagu itu rindu, kangen ingin bertemu sang pujaan.

''Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya, menahan rasa ingin jumpa. Percayalah padaku akupun rindu kamu. Ku akan pulang, melepas semua kerinduan, yang terpendam,'' demikian penggalan lirik 'Kangen' yang termaktub dalam album pertama Dewa 19. Lagu tersebut seolah menjadi milestone bagi musik band tersebut.

Dari lirik itu, kita disajikan sebuah katarsis. Pelepasan emosi bagi pria-pria yang merindukan wanita pujaannya. Nuansa cinta itu dibalut dengan musik rock. Dengar saja raungan gitar Andra di tengah lagu tersebut. Melodi gitarnya seolah memutus rantai kontemplasi pria yang merindu.

Nah, di balik lagu tersebut, ada sosok jenius bernama Ahmad Dhani. Pria kelahiran Surabaya 26 Mei 1972 itu merupakan frontman sekaligus pemain kibor dari Dewa 19. Bukan cuma itu, Ahmad Dhani pun mencipta hampir seluruh lagu-lagu hits Dewa 19.

Musikalitas yang jauh melebihi batas, namun diiringi arogansi yang cukup bikin publik geleng-geleng. Mungkin seperti itulah persepsi publik. Ucapannya kadang bikin publik mengurut dada.

Soal arogansi, Dhani pun tidak menampik sifat itu ada dalam dirinya. Bahkan, dia mengatakan sifat arogannya merupakan turunan. Bawaan DNA, katanya.

Dhani, dalam sebuah wawancara pada 9 April 2008 silam, menggelontorkan perumpamaan bahwa ciri bangsa besar yakni banyak manusia arogannya.

"Menurut saya Soekarno lebih arogan, Mohammad Ali juga lebih arogan. Mungkin aku urutan ke-100 sekian dari mereka. Dan itu adalah turunan, DNA. Dan julukan semacam itu sama sekali tidak mengganggu. Itu (arogan) hanya bawaan aja, tidak bisa direncanakan dan dihindari. Seorang yang pemarah, sabar, poligami itu adalah turunan. Justru ciri khas bangsa yang besar adalah banyak manusia arogannya," ujar Dhani dalam sebuah wawancara.

Tidak bisa dipungkiri, Dhani memang jenius. Bak Midas, apapun yang disentuhnya menjadi sebuah karya menakjubkan. Bukan cuma di Dewa 19, Ahmad Dhani pun berperan dalam mengorbitkan sejumlah musisi ke gerbang kesuksesan.

Mereka yang 'berutang' pada Ahmad Dhani dan pernah merasakan tangan dingin pendiri Republik Cinta Management itu yakni Reza Artamevia, Pinkan Mambo, Mulan Jameela, hingga Tata Janeeta.

Nama Ahmad Dhani pun tak lepas dari jeratan kontroversi. Pada April 2005, dia sempat berseteru dengan organisasi kemasyarakatan Front Pembela Islam. Ketika itu, simbol di album Dewa menjadi soal.

Soal itu berujung laporan polisi yang dilayangkan pihak FPI pada 25 April 2005. FPI menilai sampul album Laskar Cinta milik Dewa 19 dinilai bermuatan kaligrafi berbunyi 'Allah'. Simbol itu, menurut FPI, tidak pantas dicantumkan pada album Dewa.

Namun, perseteruan itu hanya sebentar. FPI dan Dewa menyudahinya. Dewa akhirnya merevisi simbol itu dan mencetak ulang sampul album Laskar Cinta.

Belakangan ini, kita kerap melihat Ahmad Dhani bukan lagi sebagai musisi, melainkan politisi. Dia serius. Terlihat dari pencalonannya sebagai anggota legislatif oleh Partai Gerindra pada 2019 nanti untuk Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur I yang meliputi wilayah Surabaya dan Sidoarjo.

Benih-benih ketertarikan Ahmad Dhani di dunia politik sejatinya sudah ada sejak tahun 1998 silam. Ketika itu, reformasi berkobar. Ahmad Dhani, melalui grupnya Ahmad Band, menyuarakan kebenciannya pada rezim yang saat itu dipimpin Presiden ke-2 RI Soeharto.

Satu-satunya album band tersebut, yakni Ideologi Sikap Otak dirilis tepat pada 1998. Isi album tersebut bukan cuma cinta. Tapi, juga jeritan Ahmad Dhani yang menentang penguasa.

Simak saja lagunya yang berjudul 'Distorsi'. Lirik-liriknya keras. Dengan raungan gitar distorsi, lagu itu sarat sindiran terhadap praktik korupsi kolusi dan nepotisme yang menjangkiti pemerintah saat itu.

''Setiap hari mabuk. Ngoceh soal politik. Setiap hari korup. Ngoceh soal krisis ekonomi,'' demikian nukilan dari lirik lagu tersebut.

Ketika Joko Widodo menjabat sebagai presiden, Ahmad Dhani seolah menempatkan dirinya di sisi oposisi. Sindiran demi sindiran. Komentar pedas dilayangkan Ahmad Dhani di masa pemerintahan Jokowi.

Sempat, Ahmad Dhani berkicau berjanji akan memotong kemaluan jika Jokowi menang atas Prabowo Subianto. Kicauan itu dilontarkan melalui akun jejaring sosial Twitter miliknya di tengah hingar bingar pemilihan presiden 2014.

''Saya akan potong kemaluan saya kalau Jokowi menang dari Prabowo Subianto!! Itu sumpah saya!!'' demikian bunyi kicauan Ahmad Dhani melalui akun Twitter miliknya pada 23 Juni 2014.

Namun, Ahmad Dhani membantahnya. ''Nggak ada kayak gitu-gitu. Kemaluan saya sangat saya cintai. Ngapain saya nazar-nazarin,'' kata Ahmad Dhani di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih Raya, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari Suara.com, Senin (21/7/2014).

Dhani berdalih kicauannya dicapture seseorang tak bertanggungjawab kemudian diedit dengan program photoshop. ''Sahabat saya aja percaya itu saya yang nulis. Hampir tiap ketemu itu mulu yang dibahas,'' Dhani dengan mimik wajah yang kesal.

Sejumlah media yang pernah memuat berita itu pun dilaporkan Dhani ke Dewan Pers. Setidaknya dia itu mengaku melaporkan 17 situs online yang terdiri dari forum dan portal berita.

Menjelang Pemilihan Presiden 2019, Ahmad Dhani seolah menjadi martir. Bersama mantan penyanyi Neno Warisman, dia menyerukan gerakan #2019GantiPresiden.

Di Surabaya, Minggu (26/8/2018), Ahmad Dhani dikepung. Saat itu dia berada di hotel hendak menuju lokasi deklarasi gerakan #2019GantiPresiden. Namun, keberangkatan tertahan lantaran ada sejumlah orang berdemonstrasi di depan hotel tempatnya menginap.

Nah, ketika digedor, Ahmad Dhani pun sempat mengunggah rekaman video. Video itu diunggah ke akun jejaring sosial Instagram miliknya.

Dalam videonya, Ahmad Dhani merasa bingung, karena didemonstrasi padahal hanya musisi, bukan penguasa.

Di video tersebut, Ahmad Dhani santai duduk di lobi hotel bersama beberapa rekannya. Di situ, suami penyanyi Mulan jameela ini menceritakan situasi dirinya yang tak bisa keluar hotel karena dihadang ratusan pengunjuk rasa.

''Hari ini saya dihadang, nggak bisa keluar hotel. Ditahan polisi saya, didemo oleh seratus orang. Aneh juga ya, biasanya yang didemo itu kan presiden, menteri, kapolri. Ini musisi di demo. Sudah gitu musisi yang nggak punya backing polisi, nggak punya backing tentara,'' tutur Ahmad Dhani dengan santai.

''Kita ini kan oposisi, aneh ya. Ini yang mendemo yang membela penguasa, lucu. Ini idiot-idiot, mendemo orang yang tidak berkuasa,'' lanjutnya.

Di ujung rekaman video, Ahmad Dhani menyampaikan permintaan maaf kepada rekan-rekannya karena urung mengikuti deklarasi gerakan 2019 Ganti Presiden di Surabaya.

''Jadi saya ini nggak bisa keluar. Mohon maaf kepada teman-teman yang deklarasi saya nggak bisa keluar dihadang sama polisi. Polisinya membiarkan dua jam. Dua jam demonya dibiarin saya nggak bisa keluar.''

''Saya kan takut, kalao saya keluar saya marah saya habisi semua kan repot.Jadi saya ngalah saja. Ngalah nunggu di sini. Jadi maaf kepada teman-teman yang lagi nunggu di deklarasi,'' tutup Ahmad Dhani.

Segala kontroversi dan sepak terjang di dunia politik Ahmad Dhani sejatinya membuat publik semakin rindu. Ya, rindu dengan sosok Dhani sebagai seorang musisi, bukan sebagai politisi.

Kerinduan ini seolah membuncah dan terlontar dari publik yang menyaksikan pagelaran Prambanan Jazz 2018, tempat Dewa 19 dan Ahmad Dhani menggelar reuni hingga memuaskan dahaga para Baladewa--sebutan bagi penggemar Dewa 19.

Seperti dikutip dari Guideku.com, lagu demi lagu yang dibawakan Dewa 19 disambut antusias penonton. Mereka membentuk koor. Seolah penonton terlempar ke masa kejayaan Dewa 19.

Dan, koor massal tak terkendali ketika 'Kangen' berkumandang di langit Prambanan. Seolah, koor ini menjadi ajakan untuk Ahmad Dhani agar kembali menjadi legenda di dunia musik. Tidak terpengaruh oleh hingar bingar politik.

Jeritan hati para Baladewa ini juga termaktub dalam channel Youtube Aquarius Musikindo--label Dewa 19 dan Ahmad Band saat itu--ketika mengunggah video lirik lagu 'Sudah', sebuah nomor cinta dari Ahmad Band.

Akim Maulana, misalnya. Dia mengakui kejeniusan Ahmad Dhani. Terlepas dari segala kontroversi, tak dapat dipungkiri Ahmad Dhani merupakan musisi cerdas.

''Inilah Dhani, di luar semua kontroversinya, dia adalah musisi cerdas. Hampir semua lagunya hits. Zaman 97-98 mana ada musisi yang bikin lagu kayak gini,'' ujar Akim Maulana.

Pun demikian komentar menohok dari Gige Gie, ''Setop kegilaanmu Dhan. Berkaryalah seperti dulu lagi.''

Thursday, February 18, 2016

Dari Indra Bekti hingga Saipul Jamil...


ISU LGBT tengah mengharubiru di Indonesia, tak terkecuali di dunia hiburan.

Apalagi, belakangan ini, tengah marak kasus dugaan pencabulan yang menjerat sejumlah pelaku di dunia hiburan dan cukup membuat publik terhenyak.

Terakhir, kabar mengejutkan dan tidak mengenakkan datang dari pesohor sekaligus pedangdut Saipul Jamil.

Pedangdut yang karib disapa Ipul itu ditangkap lantaran dituding melakukan tindakan pencabulan terhadap remaja pria berinisial DS.

Juri acara dangdut di salah satu stasiun televisi itu dicokok polisi di kediamannya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (18/2/2016) pagi.

Ketika diamankan, mantan suami pedangdut Dewi Perssik tersebut setelah menunaikan salat subuh.

Menurut Kepala Kepolisian Sektor Kelapa Gading, Kompol Ari Cahya, SJ sangat kooperatif saat ditangkap di rumahnya dan tidak ada perlawanan.

"Setelah salat subuh, kami ke rumahnya melakukan penangkapan. Tidak ada pemaksaan dan perlawanan. Semua lancar dan baik," ujarnya di Kantor Polsek Kelapa Gading, Jakarta, Kamis (18/2/2016).

Kronologi dan iming-iming Rp50 ribu

Kapolsek Kelapa Gading Kompol Ari Chahya Nugroho menjelaskan awal perkenalan Saipul dengan DS.

Menurut Ari, tersangka dan korban berkenalan di sebuah acara stasiun televisi swasta pada 31 Januari 2016.

"Pada saat itu SJ menanyakan ke DS tinggal di mana. Pas DS bilang di daerah Jakarta Utara kata SJ, 'Oh sama nih, mau diantar (pulang) enggak?'. Akhirnya DS mau diantar dan pas turun, sampai rumah dikasih uang Rp 50 ribu," ucap Ari.

Pada pertemuan pertama tersebut DS didampingi oleh temannya.

Lain dengan pertemuan kedua, Saipul dan DS berjumpa tanpa sengaja.

Saat itu saipul meminta kepada DS untuk berkunjung ke rumahnya.

"SJ meminta DS untuk membantunya hingga larut malam. DS kemudian diminta bantuan untuk pijat," katanya.

Bermula dari meminta tolong itulah Saipul melancarkan aksi tak senonohnya.

Saat DS sedang memijat, Saipul meminta agar DS mau melakukan aktivitas seksual.

"SJ sempat dua kali minta. Tapi DS tidak berkenan. Nah pas DS sedang tertidur sekitar 04.00 WIB, SJ melakukan perlakuan tak senonoh itu," kata Ari.

Tidak terima dilecehkan, DS yang disuruh pulang oleh Saipul, langsung melaporkan peristiwa tersebut bersama orangtuanya ke polisi.

Setelah salat subuh atau kira-kira pukul 05.00 WIB, Saipul langsung diciduk oleh polisi tanpa perlawanan.

Setelah diperiksa selama beberapa jam, polisi meningkatkan status Saipul dari terperiksa menjadi tersangka.

Saipul Jamil mengakui

Wajah Ipul terlihat kusut saat berada di Ruang Kanit Reskrim Polsektro Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (18/2/2016).

Pedangdut yang mengenakan sorban bercorak putih hitam dengan gamis putihnya itu terlihat duduk di ruang Kanit Reskrim Polsektro Kelapa Gading Iptu Fahmi Amrullah.

Saat Adzan Magrib, Ipul terlihat menyeruput air teh hangat sebagai pembatal puasa yang dilakoninya setiap Senin dan Kamis.

Tak lama kemudian, Ipul menyantap bubur ayam. Sambil makan makanan yang disediakan polisi, Ipul menangis.

"Iya pak... saya melakukan," katanya ketika ditanya apakah laporan remaja laki-laki (17) itu benar atau tidak.

Ketika disinggung maksud dan tujuannya, Ipul hanya mengatakan, "Saya khilaf" seraya memejamkan mata.

Kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Saya stress, sudah ya.." ucapnya singkat.

Kasus sama menjerat Indra Bekti


Sebelum menimpa Ipul, kasus serupa yakni dugaan pencabulan juga menjerat presenter kondang Indra Bekti.

Pria bernama Lalu Gigih Arsonafa mencoba melaporkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Indra Bekti kepada dirinya.

Dalam laporannya, Gigih membawa bukti pesan singkat yang berisi ajakan dari Indra kepada Gigih untuk melakukan hubungan intim.

Ya, rekaman suara artis pendatang baru Lalu Gigih Arsanofa dengan orang yang diduga sebagai Indra Bekti itu memang beredar di dunia maya.

Dalam salah satu percakapan, terdengar sosok yang diduga Indra Bekti itu mengakui dirinya menyukai sesama jenis alias gay.

G : Selama ini istri nggak tahu kalau kak Indra suka sama cowok gitu?

IB: Ya nggak tahulah.. ya endak lah.

G : Aku kira kak..(istri IB) tahu kalau kak Indra suka ama cowok kayak gitu.

IB: Astagfirrullah ya enggaklah.

G : Kalau misalnya tahu gimana?


IB: Ya bahayalah, kehidupan aku ancur, kita bisa cerailah, selesailah hidup aku. Kamu mau ancurin hidup orang di atas kesenangan kamu gitu. Ngeliat orang lain ancur kok kamu tega.

Tak hanya itu, laporan lain juga datang dari RP, seorang remaja yang mengaku mendapat pelecehan seksual dari Indra.

Awalnya, RP yang mengaku berprofesi sebagai pekerja seni peran lepas itu bercerita bahwa dirinya sempat dijanjikan untuk diorbitkan oleh Indra.

Tetapi ia justru mengalami dugaan tindak pelecehan seksual.

"Sering banget saya dilecehkan dan dia menjanjikan saya terus, menjanjikan saya menjadi seorang entertaintment, tapi hasilnya enggak ada. Dia sering nelepon saya, SMS saya, sering suruh saya main ke rumah. Akhirnya saya dilecehkan seperti ini," tutur RP di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (2/1/2016).

RP mengungkapkan, dirinya mengenal Indra saat mengikuti sebuah program acara di salah satu stasiun televisi swasta sekira enam tahun lalu.

Dari perkenalan itu, Indra disebut meminta nomor teleponnya. Beberapa hari kemudian, RP mendapat telepon dari Indra yang memintanya untuk datang ke rumah.

"Saya kaget, seorang artis telepon saya. Saya ke rumah dia di Radio Dalam, Gang Kenanga. Itu persis tahun 2010 awal kejadiannya," kata RP.

Di luar dugaan, RP mengaku dikunci di dalam kamar bersama Indra.

"Begitu saya sampai rumah dia, masuk kamar dia, tiba-tiba dia ngunci pintu, dia ngambil hand and body," tuturnya sambil tersedu.

Rp mengaku, saat itu Indra meraba seluruh bagian tubuhnya.

"Saya nolak, saya nolak. Begitu dia raba saya, begitu dia buka baju saya semuanya, saya nolak. 'Kak ini apa-apaan?'. Saya mau berontak, saya mau kabur, tiba-tiba itu pintu (kamar) sudah dikunci sama dia, saya enggak bisa kabur lagi," ucap RP.

Kendati sempat berontak, RP mengaku tak berdaya setelah Indra berjanji mengorbitkannya menjadi seorang artis.

"Dia bilang, 'Kamu mau enggak jadi seorang entertainment?', 'Mau kak'. 'Kalau kamu mau, ya udah kamu diam'. Ya udah saya bisa pasrah saja. Begitu saya pasrah, dia raba saya, dia 'ini' saya, ya udah saya hanya bisa pasrah. Dia ngejanjiin saya," tuturnya.

"Yang saya enggak terima, dia selalu ngejanjiin terus, tapi apa enggak jadi. Kenapa saya mau? Karena dia menjanji-janjikan terus, tapi janjinya kosong. Enggak pernah menepati janji, cuma janji bohong," ucap RP.

Tanggapan Indra Bekti


Tudingan pelecehan seksual yang dialamatkan kepada pembawa acara dan artis peran Indra Bekti (38), tak cuma menganggu keluarga Indra tetapi juga berimbas pada pekerjaannya.

"Gara-gara (masalah) ini, aku kehilangan kerjaan," kata Indra dalam konferensi pers di sebuah kafe di Menteng, Jakarta Pusat, Senin (1/2/2016) sore.

Suami Adilla Jelita ini mengaku harus merelakan tawaran pekerjaannya melayang begitu saja akibat pernyataan dan rekaman percakapan menghebohkan yang diunggah pihak pemain FTV Lalu Gigih Arsanofa.

"Yang harusnya aku mau jadi brand ambassador suatu produk tapi dibatalkan gara-gara ini. Kerugian materiil dan immateriil luar biasa," tuturnya lagi.

Indra berharap agar Gigih yang ia anggap hanya bertujuan mencari popularitas, tak lagi diberi "panggung".

"Stop ya, jangan tayangin lagi tayangan tidak benar, jangan tayangin orang yang dompleng nama. Kasihan dia juga, dia di-bully dan saya yakin dia mau kerja di mana? Hiburan manapun enggak akan diterima," ujarnya.

"Udah ya Ini konferensi pers terakhir dari saya untuk selamanya, tidak ada lagi yang tanya soal kasus ini. Saya tidak akan jawab apapun lagi," tambahnya.

Wednesday, February 17, 2016

Bocah Indonesia itu Memukau di Antara Para 'Raksasa'

Penampilan Joey Alexander di Grammy Awards 2016


PIANIS cilik asal Indonesia, Joey Alexander, berada di antara para 'raksasa'. Wow!

Ungkapan itu tampaknya cocok disematkan untuk bocah kelahiran Denpasar, Bali, 25 Juni 12 tahun silam ini.

Betapa tidak, di antara para musisi besar yang hadir di ajang bergengsi Grammy Awards 2016, Joey menjadi nominee termuda di kategori jazz.

Tak cuma itu, penampilan Joey di balik grand piano di panggung Grammy, Senin (15/2/2016) waktu setempat, pun terbilang cukup memukau.

Hasilnya, bocah berkacamata itu memantik standing ovation alias tepuk tangan sambil berdiri dari para musisi yang hadir di Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat, itu.




Meski tidak berhasil menyabet penghargaan, penampilan Joey yang menjadi sorotan mata dunia itu menjadi suatu kebanggaan sendiri bagi Indonesia.


Joey pun mengungkapkan rasa syukurnya lewat laman jejaring sosial Facebook miliknya.

"Senin adalah pengalaman baru bagi saya. Menjadi nominee termuda di kategori Jazz merupakan suatu kehormatan besar bagi saya," tulis Joey di laman fanpage Facebook mililknya, Rabu (17/2/2016).

Joey juga mengucapkan selamat kepada para pemenang, "Kalian semua adalah favorit saya (termasuk Uptown Funk)."

Namun, di malam itu, kebanggaan terbesar dirasakan oleh Joey adalah ketika tampil membawakan 'Freedom Jazz Dance' dari Eddie Harris di atas gemerlap panggung Grammy.

"Hal yang paling membanggakan di malam itu ketika saat tampil bersama Eric Harland pada drum dan Dave Robaire pada bass, mewakili komunitas jazz di panggung Grammy," tulis Joey.

Joey juga curhat merasa senang karena bertemu dengan banyak artis dan penggemar dari berbagai gender musik selain jazz.

"Saya juga senang bertemu dengan legenda jazz Herbie Hancock dan salah satu aktor favorit saya Johnny Depp (saya selalu berpikir dia adalah seorang bajak laut)," tulis Joey.

Di akhir tulisannya, Joey berterima kasih kepada Grammy dan para penggemarnya.

"Terima kasih kepada Grammy atas nominasinya dan mengundang saya untuk tampil, terima kasih juga untuk para fans atas dukungan dan cintanya," tulis Joey.

Dalam postingan itu, Joey juga mengunggah video penampilannya di panggung Grammy.

Postingan ini berhasil memantik 'like' dari 6.568 netizen dan dibagikan sebanyak 2.271.

Hingga berita ini disusun Kamis (18/2/2016), postingan ini sudah dilihat sebanyak 133.580 kali.

Friday, March 20, 2015

BEDAH LAGU: And You And I

JAKARTA - Suara dialog orang terdengar di awal lagu. Terdengar pula suara gitar akustik 12 senar dengan nada yang tengah di-tuning. Kemudian, harmonik gitar berdenting disusul dengan petikan nan syahdu.

Alunan ini merupakan cikal bakal sentral dari melodi gitar tersebut. Kemudian, kord simpel dimainkan dari nada D. Menarik dan berulang-ulang. Ketika tengah mencapai klimaks, suara lainnya terdengar. Ya, itulah suara Moog synthesizer.

And You And I--nama lagu tersebut--merupakan sebuah masterpiece dari band progressive rock, Yes. Lagu ini berada di album 'Close The Edge' yang merupakan salah satu album terbaik sepanjang masa yang pernah dirilis oleh Yes.

“Kita sedang dalam puncak dunia saat membuat album 'Close to the Edge'," kata vokalis sekaligus pencipta lagu Yes, Jon Anderson seperti dikutip dari situs resmi Yes, www.yesworld.com, belum lama ini.

Ya, hingga kini, vokalis bersuara 'malaikat' itu tetap mengakui bahwa periode tersebut merepresentasikan Yes saat berada dalam puncak karier mereka.

Dirilis pada 13 September 1972 di bawah label Atlantic Records, album ini membawa Yes ke era keemasannya. Betapa tidak, begitu dirilis, album ini bercokol di posisi 3 tangga lagu Amerika Serikat dan nomor 4 di Inggris. Album ini juga menerima sertifikat platinum karena terjual lebih dari 1 juta kopi.

Ada 3 lagu di album tersebut. Salah satunya adalah 'And You And I' yang terilhami dari pengalaman spiritual sang vokalis, Jon Anderson. Lalu, dua lagu lainnya adalah 'Siberian Khatru' dan 'Close to the Edge'.

Lagu 'And You And I' dibangun dengan empat pondasi, yakni empat bagian dalam satu lagu. Keempat bagian tersebut adalah 'Cord of Life', 'Eclipse', 'The Preacher the Teacher', dan bagian pamungkas lagu tersebut 'The Apocalypse'.

Jon Anderson mengatakan lagu 'And You And I' memiliki banyak interpretasi. Kata 'You' dalam lagu tersebut bisa jadi merupakan Tuhan, bisa jadi pula itu adalah manusia. Untuk itu, Jon Anderson menyerahkan intrepretasi itu kepada pendengeran.

"Mungkin itu ditujukan untuk Tuhan. Atau, itu bisa jadi kita sendiri. Para penonton dan saya, yang tengah menjadi kenyataan sesungguhnya dari sebuah keindahan hidup. Kita menggapai pelangi untuk bisa memahami sesuatu. Kamu dan saya berupaya memanjat untuk lebih dekat kepada langit," ujar Anderson.

“And You And I ditulis dengan lima bagian yang berbeda. Lalu, kita menyatukannya. Kali pertama, ide itu langsung muncul. Ini akan menjadi sebuah lagu folk indah yang saya tulis bersama gitaris, Steve Howe. Namun, kita putuskan lagu ini menjadi sebuah tema yang sangat besar," tutur Jon Anderson.

Cord of Life

Bagian pertama dalam lagu tersebut adalah 'Cord of Life'. Dialog sang gitaris, Steve Howe, mengawali bagian ini. Kemudian, Howe menyetem gitar akustik 12 senarnya seraya memulai mendentingkan melodi harmonik. Lalu, memetik gitarnya mengawali lagu tersebut.

Ketika Steve Howe mulai memainkan kord, sang kibordis Rick Wakeman menyambutnya dengan instrumen Moog synthesizer. Ini merupakan instrumen andalan Wakemen, kendati alat ini dipopulerkan kali pertama oleh kibordis futuristik, Keith Emerson dari band Emerson Lake & Palmer.

Berbarengan dengan suara Moog ala Wakeman, sang bassist Chris Squire memetik instrumennya berbarengan dengan ketukan yang digagas sang drummer, Bill Bruford. Lalu, pada menit 1.40, vokal Jon Anderson membahana memulai lirik 'A man conceived a moment's answer to the dream'.

Ada perubahan di menit 2.50. Pembagian suara dimulai. Ya inilah yang menjadi trademark dari Yes, berbeda dari grup progressive rock lainnya. Anderson menyenandungkan lirik inti dengan melodi yang tinggi. Lalu, Howe dan Squire bersahut-sahutan menyanyi dengan lirik yang berbeda.

Eclipse

Memasuki bagian kedua, 'Eclipse', Yes pun memperlambat tempo. Bagian ini dipimpin oleh permainan Melotron dan Moog yang epik dari sang maestro, Wakeman. Temanya masih sama dengan 'Cord of Life'. Hanya saja kali ini hanya dimainkan dengan instrumen Wakeman.

Di bagian ini, Anda seperti dibawa ke dunia lain. Mengawang-awang dan serba biru. Jika melihat dunia khayalan ciptaan pelukis Roger Dean yang ada di sampul album 'Close to the Edge', ke sana lah Anda akan berpelesir secara imajinatif.

Ya, dunia yang penuh dengan mahluk ganjil. Seperti dunia kita, namun dengan nuansa yang penuh dengan lekuk simetris. Betapa tidak, ilustrasi itu menyuguhkan pegunungan yang melayang dengan laut bertepikan langit.

Jangan lupakan pula permainan Steve Howe di bagian ini. Gitaris yang juga memperkuat band 'Asia' ini memamerkan kehandalannya memainkan pedal steel guitar bermerek Fender. Alunan pedal steel guitar ini berpadu dengan instrumen Wakeman.

Lalu, Jon Anderson kembali menyanyikan lirik dari stanza pertama 'The Cord of Life'. Namun, kali ini dinyanyikan dengan nada yang rada berbeda. Masih terdengar epik, namun nuansanya cukup sedih.

The Preacher, The Teacher

Melodi dan lirik pada bagian ini setali tiga uang dengan 'The Cord of Life'. Tentunya, mereka memainkan dengan sejumlah variasi. Yang membedakan adalah bagian 'The Preacher, The Teacher' memainkan permainan cepat synthesizer dari Rick Wakeman selama lagu tersebut.

Stanza terakhir dari bagian ini lagi-lagi mengandung lirik dari 'The Cord of Life'. Tapi, lirik ini dinyanyikan dengan nuansa yang berbeda. Seksi ini berakhir dengan nuansa orkestra yang dihasilkan dari perkawinan suara Mellotron dan Moog yang dimainkan Rick Wakeman.

Di bagian ini, Bill Bruford mulai menunjukkan ketukan khasnya. Ganjil dan tak terprediksi. Berbeda dengan bagian sebelumnya. Di sini, Bruford lebih banyak mengeksplorasi permainan drumnya mengiringi para punggawa Yes lainnya.

Apocalypse

Ini merupakan bagian pamungkas dari keseluruhan lagu 'And You And I'. Selain itu, ini juga merupakan bagian terpendek dalam lagu tersebut. Hanya berdurasi 40 detik. Di bagian ini, suara gitar Howe mengambil alih tampuk kekuasaan. Mendominasi sepanjang bagian.

Lirik di bagian ini pun juga 'mencuri' dari 'Cord of Life'. Namun, yang membedakan, lirik ini dinyanyikan dari kord B. Dan, ketukannya pun lebih cepat. Irama ini terus bertalu hingga lagu ini berlalu.

“Saya ingat ketika kami memainkan 'And You And I' di Philadelphia untuk kali pertama. Seluruh ruangan begitu hidup dengan musik yang kami mainkan. Itu sangat luar biasa. Dan, saat kami selesai, para penonton bersorak dan bertepuk tangan selama 15 menit. Wow!" ujar Jon Anderson.

Menurut Anderson, itulah yang dirinya pikirkan saat mengingat momen terakhir 'And You And I'. "Itu adalah salah satu momen dalam hidupmu yang tidak akan pernah kamu lupakan selamanya," tutup Jon Anderson.

Sepenggelar lirik 'And You And I' menutup lagu tersebut:

And you and I climb, crossing the shapes of the morning.
And you and I reach over the sun for the river.
And you and I climb, clearer, towards the movement.
And you and I called over valleys of endless seas.

Monday, March 2, 2015

Senjaku, Fajarku...









Hai kamu...

Yang berada di sampingku selalu  
Yang mengandung anakku
Yang bersanding di kasurku
Yang memadu kasih hingga tua bersamaku

Suatu ketika, usia kita pasti kan senja
Namun, cintaku kan selalu terbit bak fajar

Aku sayang kamu, wahai istriku...

ras/03022015

Culinary Festival Welcomes Cap Go Meh in Pontianak



PONTIANAK - Culinary Festival to liven up the Cap Go Meh Chinese New Year and in Pontianak, West Kalimantan, starting from Saturday (2/28/2015) until Thursday (3/5/2015). It followed by 50 participants. In addition, a Dragon Dance Festival was held last week that was followed by 13 participants from several foundations in Pontianak.

Agus Kurniawan, the WB Lion Dance Festival, said that, each feast Cap Go Meh Chinese New Year and in West Kalimantan is identical with the City of Singkawang. The festival event is expected to tourists who will into the City of Singkawang transit ahead of time in the City Pontianak to watch this event.

"This event is also to preserve national culture, especially Chinese culture. This time, the number of players and the next generations lion dance more decreases. With this event is expected to have a strong desire, preserving this," Agus said.

Sugioto, the Head of the Committee Cap Go Meh Chinese New Year and in Pontianak, mentioned, Culinary Festival not only followed the community of ethnic Chinese, but also from other ethnic Malays in West Kalimantan, for example, Central Java, and the Dayak.

"There are various kind of foods. We want all the people in the Pontianak to participate," said Sugioto.

With the event is also expected to have positive impact on a community in the City Pontianak. Culinary Festival participants are expected to make money of the event that was held. "This is a chance for business executors, small and medium enterprises especially, in order to promote business," explained Sugioto.

In line on observation on Sunday morning, the Festival Culinary was held in Jalan Diponegoro. Road was closed during this event. On Sunday morning, location of the event many visited by people.

Ari Susanto, one of the visitors, said, Culinary Festival is an event they loved every year, because he could feel different taste food almost every ethnic groups in West Kalimantan. "I brought my family vacation together," he said.

Rahayu Andini, other visitors, said, the event was interesting. However, the location Fast enough. Jostle for Visitors to taste dishes.(KOMPAS.com)

Thursday, March 20, 2014

Ayah...

Dini hari itu...
Ketika seonggok tubuh terbujur kaku
Sekelilingku diselimuti haru
Hanya napas yang terpaku

Pilu, ketika doa merapal dari mulutku
Tak terhenti hingga fajar menunjuk waktu
Subuh pun terlewati, aku membisu
Ruangan itu beraut sayu

Ketika napas mulai menghilang
Aku terus senandungkan doa
Tanpa henti, tanpa jeda
Dingin pun mulai merenggut

Pukul 07.50, waktu pun terhenti
Air mata genangi pelupuk
Tangis pun mulai pecah
Tubuh itu membisu

Tak ada suara
Tak ada kata
Tak ada napas
Tak ada ceria

Dunia terasa kelu
Ajal mengembangkan sayapnya
Dia telah memeluk tubuh papa
Kehidupan abadi menantinya

Entah apa yang harus dikatakan
Kematian itu tak tampak membuatnya sedih
Senyum mengembang di bibirnya
Kematian itu terasa cepat, tanpa jeda

Selamat jalan papa...

Semoga kita bertemu kembali
Nanti, saat tubuhku tak lagi di sini

Wednesday, October 30, 2013

Keberadaan Abu Freddie Mercury Terungkap

LEBIH dari 20 tahun setelah kematiannya, akhirnya terkuak sudah misteri tempat peristirahatan terakhir vokalis band rock legendaris Queen, mendiang Freddie Mercury.

Sejumlah spekulasi menyebutkan, abu Freddie itu disebar ke Danau Jenewa, Afrika timur, Pulau Zanzibar atau di rumahnya di Kensington, London, Inggris. Namun, belum lama ini, ditemukan plakat peringatan untuk Freddie di pemakaman di London Barat.

Saturday, October 19, 2013

Kamu...

Aku menyayangi kamu
Kamu dengan mahkota waktu
Hati pun tak menentu
Saat bertemu kamu

Aku merindukan kamu
Namamu nan terbawa angin lalu
Di sela hujan air mata sendu
Namun kamu tetaplah syahdu

Kamu menghiasi ruang hidupku
Terbilang hari, menanti saat itu
Bertabur cinta, buluh perindu

Saat aku dan kamu satu...

Friday, October 18, 2013

Akhir Hayat Sang Vokalis Flamboyan...

NOVEMBER 1991. Di sebuah rumah di Kensington, Inggris, sesosok tubuh lunglai terbaring tak berdaya. Hampir seluruh inderanya--terutama penglihatan--mulai berkurang. Kondisinya rapuh, stamina menurun drastis. Di samping raganya yang mulai sirna, dua ekor kucing setia menemani. Melingkar di atas tempat tidur, dimana sang tuan tergolek lemah. Tubuh itu adalah milik Farrokh Bulsara atau yang lebih dikenal dengan nama panggungnya: Freddie Mercury.

Di kamar itu, Freddie berada di ambang kematian. "Pee pee (buang air kecil)," kata Freddie kepada dua orang yang menemaninya, Peter "Phoebe" Freestone, asisten pribadi Freddie; dan Jim Hutton, pacar gay Freddie. Siapa nyana, itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh vokalis band terkenal, Queen, ini. Tubuhnya yang lemas, membuat Freddie harus dibopong. Dia meminta tolong kepada mereka untuk diantarkan ke kamar mandi.

Jim menggendong Freddie. Dilingkarkannya tubuh Freddie ke badan Jim. Saat hendak turun dari tempat tidur, terdengar bunyi retakan tulang. Seperti suara tulang yang patah dari tubuh Freddie yang lemah. Sang biduan bersuara emas itupun berteriak. Merintih kesakitan, dan langsung pingsan tak sadarkan diri. "Seperti suara ranting pohon yang terinjak," terang Jim Hutton.

Sosok Freddie yang tak berdaya ini sangat berbeda ketimbang di masa jayanya. Freddie merupakan seorang vokalis yang enerjik. Polah tingkahnya di atas panggung selalu bisa membakar emosi penonton. Gaya serta kharisma dari seorang Freddie membuat 120 ribu orang rela berdesak-desakan memadati di Lapangan Knebworth, Stevenage, Inggris. Tujuannya cuma satu: melihat Freddie dan bandnya, Queen, mengguncang panggung.

Knebworth mungkin merupakan salah satu konser terbaik dari Queen. Namun, Live Aid pada 13 Juli 1985 merupakan penampilan paling terbaik Queen. Terbaik dari yang terbaik. Betapa tidak, Queen mencuri perhatian para penonton yang notabene bukan hanya penggemar dari grup tersebut. Mereka berasal dari beragam lapisan penggemar. Maklum, saat itu, ada sejumlah band hebat yang tampil dalam acara penggalangan dana tersebut. salah satunya Led Zeppelin.

Mungkin banyak menduga Led Zeppelin lah band yang paling ditunggu. Pasalnya, sejak kematian sang drummer John Bonham pada 1978, band tersebut jarang, bahkan tidak pernah, tampil di depan publik dalam suatu konser. Namun, demi menggalang dana untuk korban kelaparan di Ethiopia itu, Led Zeppelin kembali tampil. Tanpa John Bonham tentunya. Zeppelin mengajak drummer Genesis, Phil Collins, mengisi kekosongan.

Namun, Freddie dan Queen merupakan sosok yang paling ditunggu-tunggu. Maklum, Queen kembali setelah vakum. Kreativitas yang mangkrak membuat masing-masing personelnya sibuk mengerjakan proyek solo karier. Queen pun telantar. Kendati begitu, mereka sadar. Queen masih menancap dalam di hati penggemar. Mereka raib di puncak kejayaan. Kini, mereka siap mengibarkan bendera berlambang huruf Q dengan ornamen dua singa, kepiting, dan perawan kembar itu.

Suara gemuruh penonton membahana. Mengisi setiap sudut di Stadion Wembley, London, tempat penyelenggaraan Konser Live Aid. Freddie, Brian May, John Deacon dan Roger Taylor, tengah bersiap di belakang panggung. Mereka siap tampil. Penonton terus bergemuruh. Beberapa di antaranya membawa atribut slater yang dibentangkan bertuliskan "Queen Works." Langit pun siap menanti kehadiran salah satu band terbaik di dunia itu.

Saat itu, Freddie yang sempat dikabarkan terpapar virus mematikan HIV/AIDS, tengah menderita penyakit tenggorokan. Dokter pribadi sempat menasehati pria kelahiran Stone Town, Zanzibar, 5 September 1946, itu untuk tidak tampil di Live Aid. Namun, Freddie tidak mengindahkan. Dia tahu, hidupnya hanyalah untuk menyenangkan para penikmat suara dan aksi panggungnya. Dia enggan mengecewakan para penggemarnya.

Queen masuk ke panggung. Langit tak kuasa menahan riuh penonton. Awan pun tersibak, mempersilahkan sinar matahari menyinari tahta sang 'ratu' saat tampil di atas panggung. Lagu pertama langsung dinyanyikan oleh Freddie. Denting piano berbunyi. 'Bohemian Rhapsody' mengalun. Penggemar bersorak, ada pula yang meneteskan air mata. Dengan suara yang rada serak namun masih perkasa, Freddie menyanyikan lagu monumental Queen itu.

Meski hanya diberikan waktu hampir setengah jam, Queen tak henti menggeber lagu-lagunya. Kontan, penonton kian terbakar. Dimulai dari 'Bohemian Rhapsody', 'Radio Ga Ga', ditambah improvisasi vokal Freddie yang mengajak penonton bernyanyi, 'Hammer To Fall', 'Crazy Little Thing Called Love', dan lagu pamungkas 'we Are The Champions'. Setengah jam yang mengagumkan.

Tak terbantahkan, Freddie memang merupakan sosok yang flamboyan dan percaya diri di atas panggung. Padahal, Freddie pernah mengakui dirinya adalah seorang introvert, cenderung pemalu. Dia tidak suka diwawancarai, dan hampir tertutup terhadap media. Namun, ketika berada di atas panggung, jubah itu ditanggalkan. Freddie menjadi seorang sosok yang jauh berbeda. Seorang frontman yang bisa membawa emosi penonton, hingga klimaks.

Namun, HIV/AIDS menggerogotinya. Hal ini dikarenakan gaya hidup bebas yang dianutnya. Freddie merupakan biseksual. Dia pernah memiliki istri bernama Mary Austin, yang hingga akhir hayatnya, menjadi teman terbaik Freddie. Freddie pun memiliki seorang kekasih gay bernama Jim Hutton. Freddie dan Jim yang juga seorang hairdresser itu, di sebuah bar pada 1984.

Kabar penyakit HIV/AIDS yang diderita Freddie sudah terendus oleh media. Namun, orang-orang di sekeliling Freddie menutupinya. Kendati begitu, mata manusia tidak bisa dibohongi. Semakin lama, fisik Freddie semakin kurus dan kuyu. Matanya sayu. Tatapannya lemah. Kondisi tubuhnya semakin menurun. Tapi, tak ada seorang pun yang berani bicara terkait lekatnya HIV/AIDS di tubuh Freddie.

Koran The Sun edisi 29 April 1991 menguak misteri itu. Di halaman depan koran, terpampang foto Freddie Mercury dengan kondisi yang sangat tidak biasa. Foto dari samping badan itu memperlihatkan Freddie dengan seorang temannya, melangkah dari sebuah rumah. Kondisi badannya tampak kurus dan lemah. Bertolak belakang dengan kondisi Freddie yang enerjik dan sehat.

Meski sakit dan kondisinya lemah, Freddie tetap bersumpah setia pada Queen. Album demi album diselesaikannya di tengah ancaman HIV/AIDS. Tujuannya: demi memuaskan dan tidak mengecewakan para penggemarnya. Album 'The Miracle' dan 'Innuendo' pun dirilis. Saat itu, kondisi Freddie sudah menunjukkan gejala penurunan.

Puncaknya, saat pembuatan video klip lagu 'These Are The Days Of Our Live' pada Mei 1991. Dalam vido klip tersebut, Freddie mengenakan kemeja dengan motif warna-warni yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya. Mata sayu. Badan kurus. Suaranya pun kian menipis, tidak segarang dulu. Namun, vokalis flamboyan ini tetap ingin bergaya. Siapa sangka, itu adalah penampilan terakhirnya di kamera.

Freddie merampungkan rekamannya bersama Queen pada Juni 1991. Sehabis itu, dia memilih untuk menyendiri di rumah di Kensington. Marie Austin merupakan salah satu orang yang menemani Freddie di saat-saat terakhir. Marie selalu rutin mengunjungi Freddie. Kondisinya memburuk. Freddie memutuskan untuk mempercepat kematiannya. Dia menolak untuk menenggak obat-obatan.

Pada 23 November 1991, misteri itu terungkap. Melalui manajer Queen, Jim Beach, Mercury mengakui dirinya mengidap HIV/Positif. Hal itu tersirat dalam sebuah surat atas nama Mercury yang dibacakan oleh Jim Beach.

"Saya ingin mengkonfirmasi bahwa saya telah diuji HIV positif dan AIDS. Saya merasa perlu untuk menjaga informasi khusus ini untuk melindungi privasi orang di sekitar saya. Namun, sudah saatnya sekarang untuk teman-teman dan penggemar di seluruh dunia untuk mengetahui kebenaran. Saya berharap bahwa setiap orang akan bergabung dengan saya, dokter saya, dan semua orang di seluruh dunia memerangi penyakit yang mengerikan ini," tulis Freddie.

Pada 24 November 1991 pukul 18.30 waktu setempat, dokter Atkinson meninggalkan rumah Freddie di Kensington. Dia datang setelah Freddie Mercury dikabarkan tak sadarkan diri. Tinggalah, Freddie bersama Jim Hutton dan Phoebe. Saat keduanya beranjak ke kamar Freddie, mereka menemukan Freddie telah membasahi kasur yang ditidurinya. Freddie masih dalam kondisi tidak sadarkan diri saat itu.

Phoebe mulai mengganti seprai kasur tersebut. Di saat yang sama, Jim mengurus Freddie. Dia membantu Freddie mengenakan baju bersih dan celana pendek. Saat itu pula Freddie mengembuskan napasnya. "Saya merasakan dia mengangkat kaki kirinya untuk membantu saya. Itu adalah hal terakhir yang dia lakukan. Saya melihat dia, dan menyadari bahwa Freddie telah tiada," ujar Jim Hutton.

Dunia musik berduka. Seorang vokalis terbaik di dunia telah tutup usia. Menginjak dini hari, berita tentang kematian Freddie telah tersiar di seluruh koran dan televisi pada 25 November 1991. Freddie Mercury telah meninggal. Penyebab resmi kematian Freddie adalah Bronkopneumonia (radang paru-paru) yang merupakan penyakit komplikasi dari HIV/AIDS.

Tanggal 27 November 1991, Freddie dimakamkan dengan ritual yang dilakukan oleh seorang imam Zoroaster. Ritual ini hanya diihadiri untuk 35 teman dekat dan keluarga. Mereka di antaranya anggota tersisa dari Queen dan Elton John. Jasad Freddie dikremasi di Pemakaman Gren Kensal, London Barat. Namun, keberadaan abunya hingga kini hanya diketahui oleh Marie Austin.

Hingga kini, Freddie Mercury menjadi legenda. Seorang penyanyi yang mendedikasikan dirinya untuk dunia musik dan penggemar, sekaligus menjadi ikon peperangan melawan penyakit mematikan yang disebut HIV/AIDS. Si flamboyan nan kharismatik itu telah tiada, namun warisan musiknya masih terngiang hingga kini. Setiap sudut kota masih menggemakan suaranya lewat lagu-lagu yang dinyanyikannya bersama Queen.

'We Are The Champions' selalu menjadi encore di setiap konser. Lagu itu pun menjadi penutup yang tetap di akhir hayat Freddie. Seperti dikutip dalam lirik lagu tersebut, "meski bagaimana pun, Freddie adalah seorang juara. Tidak ada tempat untuk orang yang kalah, karena Freddie tetaplah seorang juara."

Di Lantai Dingin Ruang Kelas

SEKS. Sebuah naluri alami manusia. Mulai merajai jiwa, sejak Adam dan Hawa tercipta. Namun, naluri hanyalah sebuah kata sifat. Terkadang, terselimuti oleh buasnya hawa nafsu. Buntutnya, terjadilah pelecehan dan kasus pemerkosaan. Sebuah penyaluran naluri tanpa memandang rasa manusiawi.

Kemarin, saya membaca sebuah berita. Miris, dan cukup memantik emosi. Hal yang sepatutnya tidak terjadi pada generasi penerus bangsa. Semesta berteriak merintih, gunjingan bertubi-tubi, air mata yang berurai tanpa henti, caci maki menghampiri, dan penjara pun menanti. Semua terjadi hanya gara-gara satu kata: syahwat.

Ruang kelas di lantai dasar Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Jakarta, Sawahbesar, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu. Lantai yang dingin, dan kursi yang sudah tertata rapi. Alih-alih sunyi, malah muncul kegaduhan di akhir jam pelajaran. Saat pulang sekolah tepatnya. AE, seorang siswi kelas IX [baca: delapan] di SMPN 4 tersebut diperkosa oleh adik kelasnya, FP.

Belum beranjak dewasa. Usia pun belum 17 tahun. Namun, sang adik kelas sudah membawa panji syahwat ke dalam ruang kelas. Siang itu, AE akan pulang ke rumah di sebuah lokasi di bilangan Kemayoran. Namun, tiba-tiba, sebuah tangan menariknya. A, salah satu siswi SMPN 4 membetot tangan AE, seraya mengempaskannya ke lantai. Tak pelak, AE yang tak tahu menahu terperanjat. Tapi, raganya kelu. Tak bisa berbuat apa-apa.

Bak adegan di film biru, A menyuruh FP, adik kelasnya yang baru berusia 15 tahun untuk mencium korban. Ketika bibir hendak mendarat, korban menolak. Namun, pisau pun berbicara. Terhunus, sebilah pisau mengancam nyawa sang penyintas [baca: korban yang selamat] bila tidak menuruti kemauan. Kontan, AE tidak bisa berbuat apa-apa di bawah ancaman belati. Tak pelak, korban pasrah untuk melepas kerudung. Ciuman bertubi-tubi mendarat di wajah korban.

Tak puas menganiaya, penyintas juga dipaksa untuk melakukan [maaf] oral seks. Masih di bawah ancaman pisau, AE menuruti keinginan untuk berhubungan layaknya suami-istri. Pencabulan dan pemerkosaan pun pecah. Sang gadis merintih, mencari pertolongan. Namun, semua kelu. Air matanya tak henti membayangkan dunia yang akan jatuh di atas kepalanya. Bisik-bisik masyarakat yang akan mencemoohnya. Namun, kejahatan sudah terjadi.

Seluruh adegan tersebut diabadikan oleh salah seorang siswi. Menggunakan kamera ponsel, seluruh aksi bejat pelaku terekam. Baik dalam bentuk video maupun foto. Ketika itu, lima siswi lainnya tak berbuat apa-apa. Hanya menyaksikan ketika sebuah keperawanan terenggut dengan paksaan dan berlumuran darah kemaksiatan dari punggawa nafsu syahwat.

Ketika perbuatan itu selesai dilakukan, AE ditinggalkan tergolek di lantai dingin ruang kelas. Rambut panjangnya tak tertata. Berantakan, berpencar di seluruh penjuru ruangan. Baju seragamnya pun dalam kondisi acak-acakan. Isak tangis AE menggema. Tak ada yang mendengar, kecuali dinding, lemari, kursi, meja, dan papan tulis nan membisu.

Malu, sedih, kecewa, dan kesal bercampur menjadi satu. Meski sudah mencapai ubun-ubun, AE merahasiakannya. Mulutnya terkunci rapat, hanya wajahnya yang kerap terdiam tanpa kata. Dia sudah berandai-andai, apa yang akan terjadi bila buka suara. Orang akan berdatangan, dan berbicara dengan pendapat yang kosong. Gosip, dan hanya bualan yang keluar dari mulut masyarakat yang tak tahu kejadian sesungguhnya.

Namun, sakit psikis tak luput mencederai fisiknya. Keluarga AE tidak tahu menahu. Namun, AE belakangan sering mengeluh sakit saat buang air kecil dan buang air besar. Kecurigaan membuncah, membuat EAN, ibu penyintas, menanyakan penyebab rasa sakit pada kemaluan itu. Dia tetap kelu tidak mengaku. Setelah didesak, anak pendiam itu mulai mengangkat suara. Dengan terbata-bata, dia mengaku telah menjadi korban nafsu bejat pelaku.

Sang nenek korban mengamini apa yang dialami cucunya. Nada marah terlontar, diiringi dengan mata yang menyala. "Benar, cucu saya diperkosa," kata nenek bernama Dewi, dengan suara lamat-lamat dan terbata-bata. Dia terkejut. Tidak pernah terbersit bahwa peristiwa itu menghampiri cucunya.

Kini, AE terpukul. Terngiang peristiwa keji tersebut di benaknya. Bagai luka yang menganga, sulit untuk diobati. Namun, ini bukanlah luka yang tampak. Ini adalah luka yang tergores jauh di lubuk hati, dan menghantam psikologis AE. Tak pelak, penyintas mengucilkan diri. Bersama sang bunda yang selalu menemani, dia mengasingkan diri ke tempat yang terpencil.

Kemana? Sang nenek pun mengangkat bahu. Dia tidak tahu. "Saat ini cucu saya sama ibunya tidak ada di rumah," katanya. Hingga kini, Dewi belum mengetahui kejadian sesungguhnya. Namun, hukum harus berbicara. Dia akan menyiapkan pengacara untuk membawa kasus tersebut ke meja hijau. Ingin mengempaskan pelaku ke jurang pembalasan, di sebuah tempat bernama penjara.

Menurut sang nenek, AE merupakan pribadi tertutup terhadap kaum Adam. Tidak pernah ada pria yang datang ke rumah, baik untuk mampir maupun bertegur sapa. Meski kerap pulang sore, kegiatan AE masih bisa dibilang seperti layaknya anak sekolah: menjalani ekstrakurikuler atau les.

Sekolah dinilai lengah. Ya, hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, yang tengah melakukan penyelidikan atas kasus tersebut. Sekolah lalai melakukan pengawasan hingga terjadi pemerkosaan di sebuah ruang yang harusnya menjadi contoh dan kawah candra dimuka bagi para generasi yang mengenyam pendidikan: ruang kelas.

Apakah hanya pengawasan yang dilakukan? Menurut saya, pengawasan hanya sebuah alasan yang berada di atas permukaan. Pengawasan hanya memberikan stimulus yang mungkin tidak akan mengubah sebuah persepsi nan fundamental. Lalu, apakah yang harus dilakukan? Jika diibaratkan sebuah sungai, maka cegah lah dari hulunya. Bukan hanya sebatas memperketat pengawasan.

Bisa dikatakan, salah satu hulu dari masalah ini adalah sosialisasi pendidikan seks yang kebablasan. Hal ini didapat dari derasnya arus teknologi. Alhasil, konten-konten pornografi tak terbendung. Dan, ini pun bisa diakses oleh anak remaja yang notabene masih belum bisa membedakan baik dan buruk. Dari pornografi, tercetuslah sebuah insipirasi untuk menunaikan adegan di dalamnya.

Adegan memerlukan pemeran. Suka atau tidak, remaja yang sudah kerasukan setan seks, akan mencari lawan mainnya. Baik dengan ajakan maupun dengan paksaan. Dalam kasus AE, paksaan adalah sebuah kata yang tepat. Dengan paksaan, pastinya ada orang yang tersakiti. Resistensi, namun tak kuasa apabila di bawah ancaman. Mau tidak mau, meski menahan perih dan malu, adegan itu pun berlangsung. Pemerkosaan terjadi.

Dunia memang mengalami deras informasi. Baik yang positif maupun negatif. Konten-konten seksual terus menjamah internet. Apakah bisa difiltrasi? Hingga kini, belum ada perangkat lunak yang bisa menjaring konten-konten tersebut. Pasalnya, sistem itu bagaikan sebuah dinding, tak luput dari celah. Alhasil, konten-konten tersebut bisa diakses, meski perangkap telah ditebar di setiap sudut dunia maya.

Apalagi, kini akses tersebut berada dalam genggaman. Gadget dalam bentuk ponsel dan tablet. Keduanya menjadi media yang tersembunyi untuk menyambangi situs pornografi. Layanan internet yang disediakan operator pun tak sampai merogoh kocek dalam-dalam. Terlebih untuk ukuran siswa. Untuk itu, kembali ke hulu. Pemerintah menjadi kunci yang bisa berperan menjaring konten itu di tingkap operator.

Dan, tentunya, kembali ke diri kita masing-masing. Perbuatan yang paling keji, adalah perbuatan yang merugikan orang hingga merusak masa depan yang bersangkutan. Sebab, luka yang menganga tidak hanya sampai fisik, tapi juga bisa berpengaruh secara psikis.

Kasus ini terus bergulir hingga kini. Pelaku bakal diburu. Tak lama lagi, dia akan merasakan dinginnya lantai penjara. Hukum sudah menanti. Hal itu disampaikan Kepala Disdik Pemprov DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto. Polisi sudah beranjak dari kursi, mulai memburu pelaku. Pasalnya, kata Taufik, kenakalan remaja seperti pencabulan sudah melanggar hukum.

Namun, hingga kini, pelaku masih duduk di bangku SMPN 4 Jakarta. Belum ada instruksi 'dikeluarkan' hingga dirinya terbukti bersalah. Tapi, jika benar pelaku melakukan hal itu, sekolah akan menendangnya dari SMPN 4. Satu lagi remaja menjadi penyintas pemerkosaan, dengan masa depan yang dirusak. Satu lainnya remaja yang dicap pemerkosa, menanti keadilan dari negara dan mungkin dari masyarakat. Hanya karena satu hal: syahwat

Monday, July 9, 2012

Pemilukada dan Demokrasi yang Tercoreng

Pemilukada tinggal menghitung hari. Warga Ibu Kota mulai sibuk mempertimbangkan "apa yang akan saya pilih pada Pemilukada kali ini?" Namun, pertimbangan itu diiringi kekecewaan mendalam. Pasalnya, Gubernur yang dulu terpilih tidak berbuat apa-apa untuk warganya. Sang "Ahli" hanya sibuk mengumpulkan pundi uang serta memanfaatkan pengawalan aparat untuk berpelesir keliling Jakarta.

Tengok saja, apa janjinya ketika kampanye dulu? Orang yang menyebut dirinya "ahli" itu pernah mempertaruhkan jabatannya demi membuat Jakarta bebas macet dalam kurun waktu 100 hari. Tapi, apa buktinya? Jakarta tetap dipadati kendaraan, bahkan semakin parah. Sedangkan, sang gubernur masih berada ditampuk kepemimpinan.

Lalu, apa alasannya? Dia hanya berkata butuh waktu lebih dari 100 hari untuk mengatasi kemacetan di Ibu Kota. Dan, sang "ahli" pun dengan gampang tersenyum dan berleha-leha di kursi kepemimpinan. Sementara, para penagih janji dibuat bungkam. Kelu. Mereka hanya bisa menerima keadaan dan dibuat berpikir bahwa mustahil menghilangkan kemacetan di Jakarta.

Ada pula, dia pernah berjanji untuk mengatasi banjir yang menjadi masalah terbesar di Jakarta, selain kemiskinan dan kemacetan. Tapi, apa buktinya? Banjir masih menggenangi Jakarta. Suatu waktu, ketika dia diwawancarai di jembatan penyeberangan di Jakarta, sang "ahli" hanya berkata "itu salah warga, kenapa buang sampah sembarangan."

Ironis, seorang gubernur menyalahkan warganya. Padahal, bebas banjir merupakan bagian dari kampanyenya. Bahkan, dia bisa mengklaim bahwa dia adalah "ahli"-nya dalam mengatasi banjir. Seharusnya, sebagai pemimpin, dia menggandeng warga dan memberikan penyuluhan kepada mereka dengan sabar. Bukan menyalahkan para warga.

Ada satu pernyataan "bodoh" yang dia lontarkan terkait banjir ini. Ketika itu, dia ditanya oleh wartawan terkait persoalam menahun ini. Lalu, dengan polosnya, dia berkata "yah kalau bisa, air laut jangan naik lagi lah." Setahu saya, hanya Tuhan yang sanggup berbicara kepada alam ciptaan-Nya. Dan, dia menyuruh laut untuk tidak pasang. Hebat nian!

Sikap temperamen dan bodoh itu juga ditunjukkan saat sang "ahli" menjabat sebagai wakil gubernur. Ketika itu, seorang pewarta tengah melakukan telewicara dengan dia. Latar belakangnya adalah lokasi banjir di Kampung Pulo. Entah apa yang ditanyakan sang pewarta, sehingga dia naik pitam. Yah, belum jadi pemimpin saja sudah menunjukkan sikap tidak sabar.

Semoga warga Jakarta bisa menggunakan akal sehat dalam memilih gubernur. Ini meski beberapa kali, masyarakat dikecewakan dengan pemilihan yang didominasi oleh kepentingan partai dan golongan. Saya bilang, pemilihan ini bukanlah milik rakyat. Ini adalah demokrasi untuk golongan dan partai, bukan untuk rakyat.

Banyak hal yang dilakukan oleh para calon gubernur selama kampanye. Anehnya, di setiap kampanye, mereka tengah bercengkerama dengan kaum papa. Tampak pula, mereka menggendong bayi yang kelaparan maupun penyandang disabilitas. Sehina itukah rakyat? Sehingga, para cagub "menjual" mereka demi kepentingan kampanye.

Menurut saya, kampanye adalah pembodohan massal. Sebuah utopia yang takkan terwujud. Fantasi ganjil yang terpapar hanya sesaat. Sikap pesimistis ini sudah melalui beberapa kali proses optimistis. Sehingga, saya memilih untuk pesimistis. Karena apapun yang saya pilih, kaum golongan dan partailah yang menang. Lalu, buat apa kita memilih.

Saya menghalalkan golongan putih. Karena, putih adalah suci. Bukan tidak ingin turut andil dalam proses demokrasi ini, tapi saya sudah bosan dengan proses demokrasi yang berjalan tidak semestinya. Saya tidak menyalahkan Jakarta, karena Jakarta hanyalah sebuah lokasi. Tapi, saya menyalahkan orang yang tidak bisa membina dan merawat Jakarta sebagaikmana mestinya.

Semoga yang terbaik yang menang. Sekian.

REN

Wednesday, June 20, 2012

Kisah Unik Seputar Patung Pancoran

Jika melewati jembatan Pancoran, Jakarta Selatan, Anda bakal menemui tugu melengkung yang dihiasi oleh sebuah patung di atasnya. Ya, namanya adalah Patung Dirgantara, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Patung Pancoran--karena lokasinya berada di bilangan Pancoran.

Namun, tahukah Anda? Ada kisah unik dibalik pembuatan patung tersebut. Ya, Patung Dirgantara di bundaran Jalan Jenderal Gatot Subroto itu dibuat berdasarkan rancangan Edhi Sunarso, dikerjakan oleh pematung keluarga Arca Yogyakarta pimpinan Edhi Sunarso.

Ide pertama pembuatan patung itu datang dari Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno yang menghendaki agar dibuat sebuah patung mengenai dunia penerbangan Indonesia atau kedirgantaraan. Patung ini menggambarkan manusia angkasa, yang menyimbolkan semangat keberanian bangsa Indonesia menjelajah angkasa.

Pada awalnya pembuatan patung itu, Bung Karno sendirilah yang menjadi modelnya. Sebelum maket patung dikerjakan oleh Edhi Sunarso, Bung Karno berulang kali memperagakan bagaimana model patung itu harus berdiri. Dan, biaya pemasangan patung ini berasal dari kocek pribadi Bung Karno dengan menjual sebuah mobil pribadinya.

Proses pemasangan Patung Dirgantara selalu ditunggui oleh Bung Karno. Alhasil, kehadirannya selalu merepotkan aparat negara yang bertugas menjaga keamanan sang Kepala Negara.

Alat pemasangannya pun sederhana saja: dengan menggunakan Derek tarikan tangan. Patung yang berat keseluruhannya 11 ton tersebut terbagi dalam potongan-potongan yang masing-masing beratnya 1 ton.

Patung ini terbuat dari bahan perunggu. Berat patung tersebut 11 ton dengah tinggi 11 meter. Sementara tinggi voetstuk (kaki patung) 27 meter, dikerjakan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana.

Ada pula isu menarik seputar Patung Pancoran. Konon, patung itu menunjuk sebuah tempat dimana Bung Karno meletakkan harta kekayaannya. Dan, harta itu dipercaya dapat melunasi utang-utang negara.

Selain itu, beberapa orang menceritakan bahwa patung ini menghadap ke sebuah Pelabuhan Sunda Kelapa. Nah, selama masa penjajahan Belanda, pelabuhan tersebut menjadi jantung peradaban bangsa Indonesia.

Potret Sejarah Tanah Abang

Apa yang Anda temukan ketika melewati bilangan Tanah Abang? Nadi perekonomian yang tak henti-hentinya berdetak. Keramaian yang tak kunjung selesai, terlebih ketika musim liburan datang. Kawasan tersebut menjadi salah satu jantung perekonomian warga Jakarta. Ingin berburu baju, oleh-oleh, atau pernak-pernak lainnya? Tanah Abang lah tempatnya.

Namun, tak jarang pula yang mengetahui kawasan Tanah Abang adalah salah satu wilayah yang cukup tua di Jakarta. Ada dua pendapat mengenai asal mula nama Tanah Abang. Pertama, dihubungkan dengan penyerangan Kota Batavia oleh pasukan Mataram pada tahun 1628. Serangan dilancarkan ke arah kota melalui daerah selatan, yaitu Tanah Abang.

Tempat tersebut digunakan sebagai pangkalan karena kondisinya yang berupa tanah bukit dengan daerah rawa-rawa dan ada Kali Krukut di sekitarnya. Karena tanahnya yang merah, maka mereka menyebutnya “tanah abang” yang dalam bahasa Jawa berarti merah.

Kedua, adanya pendapat yang mengartikan Tanah Abang dari kata “abang dan adik”, yaitu dua orang bersaudara kakak dan adik. Karena adiknya tidak mempunyai rumah, ia minta kepada abangnya untuk mendirikan rumah. Tanah yang ditempati disebut tanah abang.

Nama Tanah Abang mulai dikenal ketika seorang kapten Cina bernama Phoa Bhingam minta izin kepada Pemerintah Belanda untuk membuat sebuah terusan pada tahun 1648. Penggalian terusan dimulai dari arah selatan sampai dekat hutan kemudian dipecah menjadi dua bagian, daerah timur sampai ke Kali Ciliwung dan ke arah Barat sampai Kali Krukut.

Terusan ini bernama Molenvliet dan berfungsi sebagai sarana transportasi untuk mengangkut hasil bumi dengan menggunakan perahu ke arah selatan sampai dekat hutan. Adanya Molenvliet memperlancar hubungan dan perkembangan daerah kota ke selatan.

Bahkan jalan-jalan yang berada di sebelah kiri dan kanan terusan itu merupakan urat nadi yang menghubungkan Lapangan Banteng, Merdeka, Tanah Abang, dan Jakarta Kota.

Daerah selatan kemudian muncul menjadi daerah perkebunan yang diusahakan oleh tuan tanah orang Belanda dan Cina. Jenis perkebunan yang diusahakan antara lain kebun kacang (saat itu minyak kacang merupakan bahan komoditi yang laris), kebun jahe, kebun melati, kebun sirih, dan lainnya yang kemudian menjadi nama wilayah sampai sekarang.

Karena melimpahnya hasil-hasil perkebunan di daerah tersebut mendorong Justinus Vinek untuk mengajukan permohonan mendirikan sebuah pasar di daerah Tanah Abang dan Senen. Setelah mendapat izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patras pada tanggal 30 Agustus 1735, Vinck membangun dua pasar, yaitu Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen.

Peranan Kali Krukut pun makin penting sebagai tempat berlabuhnya perahu yang memuat barang-barang yang akan djual ke Pasar Tanah Abang. Selain digunakan sebagai sarana transportasi, Kali Krukut juga digunakan untuk keperluan sehari-sehari penduduk. Untuk menjaga kebersihan dan mencegah banjir, Pemerintah Belanda membuat pintu airpada tahun 1917.

Di bawah kekuasaan penjajah penduduk Tanah Abang juga tidak tinggal diam. Pernah terjadi pertempuran antara pasukan Belanda dengan penduduk daerah Tanah Abang di Kampung Karet dekat kuburan. Waktu itu Belanda mencoba menduduki kantor cabang polisi supaya Tanah Abang terputus hubungannya dengan daerah-daerah lain.

Wilayah Tanah Abang meliputi Kelurahan Kampung Bali, Kebon Kacang, dan Kebon Melati. Tetapi yang menjadi inti Kampung Tanah Abang adalah di sekeliling Pasar Tanah Abang. Asal mula nama Kampung Bali berawal dari banyaknya orang Bali yang tinggal di sana.

Pada waktu itu pemerintah Belanda memberikan pangkat kapten kepada kepala kelompok suku-suku bangsa yang ada di Batavia. Sehingga muncul nama Kampung Bali, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Cina, dll.

Bahkan menjelang akhir abad ke-19 banyak orang Arab yang menghuni wilayah ini. Di tahun 1920 jumlahnya mencapai 13.000 jiwa. Untuk memenuhi kesukaan orang-orang Arab makan daging kambing, Pasar Tanah Abang pun makin ramai melayani keperluan kambing.

Ada juga suatu daerah yang disebut Kombongan. Dulu tempat ini dipakai kusir saldo dan delman untuk beristirahat sambil memberi makan kudanya. Makanan kuda itu diletakkan di sebuat tempat yang disebut kombongan, yaitu alat (wadah) yang bentuknya bulat, terbuat dari batu dan semen.

Tidak jauh dari pangkalan-pangkalan saldo dan delman, terbentang perkebunan pohon jati yang luas. Penduduk di sekitarnya menyebut daerah itu Jatibaru. Nama Kebun Dalam berasal dari sebuah kebun milik tuan tanah Cina, Tan Hu Teng yang agak menjorok ke dalam. Nama Tanah Rendah, karena tanahnya agak rendah dan letaknya berdekatan dengan Kali Krukut.