Monday, August 15, 2011
lagi, prosa kesunyian
membaca jeritan hati nan sendu
lembaran baru seringkali kubuka
namun tiada nan bisa sembuhkan luka
waktu kian berlalu
hanya dunia yang sanggup meramu
aku dalam kesunyian malam
mencari arti dari sebuah ruang kelam
di jiwa dan di hati
ketika wajah sayu menebar benih sunyi
(ras/15082011)
Friday, August 12, 2011
musik atau politik?
politik! apa yang terbersit di benak anda saat mendengar wacana ini? yunani menjadi asal dari kata itu. sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, artinya. bisa didefinisikan sebagai suatu proses ketika sekelompok orang mengambil keputusan. pertanyaannya adalah, keputusan apakah itu?
Nah, di masa kini, terutama di indonesia. meski tidak seluruhnya, saya tidak bisa melihat adanya kecenderungan seseorang untuk berpolitik demi kemakmuran masyarakat. perut kosong, asal dapur mengebul, kebutuhan anak terpenuhi, hidup foya-foya, dan segala kegiatan hedonisme lainnya tengah merambah jiwa para politisi. hampa, dan mudah lupa.
bisa ditarik kesimpulan, mereka dihuni jiwa serakah dan diburu nafas keadilan. banyak orang berkoar-koar soal politik, padahal mereka tidak tahu isinya. banyak insan menyembah politisi sebagai sosok tuhan mereka. tapi tak ada yang mengerti, "tuhan" mereka palsu dan bisa dibeli dengan uang serta sosok yang terjerembab dalam limbah serakah.
ketika waktu bergulir, mereka terus mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. di sisi seberang, kaum papa mengemis receh serta mengais makanan dari gelanggang tempat sampah. di antara keduanya, masyarakat yang berupaya membela kaum papa, ada pula yang berpihak pada sang politisi. namun, kenapa mereka cenderung sok tahu? seolah mencari eksistensi?
analisis mereka patut dipertanyakan. ada yang menghujat, tak jarang pula yang memuja. mereka menganggap rona kehidupan sebagai sebuah papan permainan, yang bisa digoyah kesana-kemari. mereka berpendapat. bebas memang, tapi buat apa pendapat terlontar tanpa sekat. tidak ada alasan, aneh memang. Toh, kita tidak merasakan “indahnya” dunia politik.
sekali lagi, lebih baik berbicara soal musik, daripada mengangkat wacana politik di dalam obrolan warung kopi. mengasyikan memang, ketika kita membicarakan pejabat yang lazim maupun lalim. tapi, hidup terlalu berharga untuk berbicara pepesan kosong. lebih baik musik, daripada politik.
“i'm a political man and i practice what i preach. so don't deny me baby, not while you're in my reach," (cream, politician, 1968)
(ras/12082011)
Wednesday, August 10, 2011
Life and Death of Jim Morrison
Unlike other psychedelic artists, who tended to favor whimsy or mysticism, Morrison saw expansion of consciousness as a way of gaining access to the subconscious mind's dark, unacknowledged desires; his rampaging id dominated his songs with a lust for violence, sex, alcohol, drugs, self-destruction, anything forbidden for any reason by the authority of conservative middle America, and he tried to live out that lifestyle as best he could.
Some of Morrison's work has been criticized -- both during his lifetime and afterwards -- as too melodramatic and calculatedly outrageous, but even at his most frustrating, Morrison's ideas have achieved a lasting resonance with newer generations as well as his initial fans, and his best material remains some of the most original and visionary rock music ever recorded.
For further information: http://www.jim-morrison.com/
senandung pagi ibu kota
dalam indahnya balutan biru lembayung pagi, jakarta bersenandung. nada bising tak berirama, tenggelam ditelan deru kendaraan. sebuah irama kerinduan terhadap awan suci dan kesejukan. ya, tiada yang seindah pagi ketika sang surya terbangun, lelap sepanjang malam, terganti oleh keindahan rembulan. kini pagi menjanjikan kesemrawutan.
aku melihat manusia. bagaikan dipecut oleh ambisi dan komitmen. hanyut dalam gesa, dikejar dan diburu waktu. meski waktu takkan pergi, ketika mereka statis di satu titik. wajah ceria berganti serius, aktor lugu menjadi ambisius. saling rebut-merebut menjadi budaya. indonesia, ibu pertiwi, kini sarat dengan lautan manusia, yang tergesa.
tiba-tiba saja, sebuah lagu dari pink floyd, “another brick in the wall part 2” tergiang di telinga. memasuki dan mengaliri syaraf otakku yang sempat mengering, psychedelia. entah kenapa, lagu itu membawaku terbang ke alam mesin. hatta, manusia yang selalu hidup dikejar waktu dan terangkum imbas ambisi. mereka seperti mahluk artifisial besutan pabrik yang tercipta karena buah rekayasa, bukan tuhan melainkan manusia.
tak ada lagi senandung lirih di pagi hari. kini, nada itu sumbang dan muram, penuh dengan minoritas. jiwa para manusia melayang menuju penghujung pekan. menanti libur, karena saat itulah mereka bisa bersenda gurau, melantunkan nada riang gembira di tengah derai tawa orang-orang tersayang. pun demikian aku, menanti dan menaruh harap.
(ras/11082011)
maaf
Kuhirup harum nan tak semestinya
merangkul noktah kerinduan dewata
mencibir duka, bertahta bahagia
selamat tinggal duka
tetaplah menuai bahagia
(ras/10082011)